• HOME
  • HUKUM
  • YLBHI Minta DPR Jangan Ikuti Kemauan Pemerintah Soal RKUHP

YLBHI Minta DPR Jangan Ikuti Kemauan Pemerintah Soal RKUHP


Laporan : Arkan Yasin
Minggu, 26 Juni 2022 - 09:26

Ketua YLBHI Asfinawati. /Net

DPR RI diharapkan bisa berperan sebagai penyambung lidah rakyat. Khususnya terkait pembahasan Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP). 

Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBHI) Asfinawati menyampaikan harapannya tersebut dalam diskusi Polemik bertajuk "Quo Vadis RKUHP" yang digelar virtual, Sabtu (25/06).

Asfin menyampaikan hal tersebut lantaran mendengar dalam rapat dengar pendapat (RDP) yang membahas sial RKUHP di DPR RI beberapa waktu lalu banyak anggota parlemen yang justru mengikut pada kemauan pemerintah.

"Tentu saja kita sebagai masyarakat mengharapkan DPR lebih aktif (kritis). Karena ini sekali diketok akan susah lagi diubah," kata Asfin dikutip dari Kantor Berita Politik RMOL.

Dia menjelaskan, materil RKUHP sudah berpuluh-puluh tahun lamanya disusun oleh para pakar, yakni sejak tahun 1984. Akan tetapi tak kunjung masuk dalam program legislasi nasional (prolegnas).

Akan tetapi dalam draf RKUHP kali ini, yang disoal banyak masyarakat salah satunya adalah terkait norma penyerangan martabat presiden dan wakil presiden.

Padahal, apabila mengacu pada Putusan MK soal gugatan pencemaran nama baik presiden diamanatkan, "RUU KUHP yang merupakan upaya pembaharuan KUHP warisan kolonial tidak harus lagi memuat pasal-pasal yang isinya sama atau mirip dengan Pasal 134, Pasal 136 b, Pasal 137 KUHP".

"Kata ini ada diputusan MK tentang penghinaan presiden. Ini kan mirip semua seperti menghina, berakibat kerusushan, menghina pemerintah, menghina kekuasaan umum, dengan penyerangan harkat martabat presiden," kata dia.

Maka dari itu, Asfin mendorong DPR bisa lebih kritis dalam proses pembaharuan KUHP yang menjadi landasan penegakkan hukum di Indonesia.

"Isinya (KUHP) sangat besar sekali memang. Mulai pelanggaran HAM berat sampai pergelandangan. Bahkan sampai saya ketemu ada bahasa kenakalan di RKUHP. Jadi tentu saja nasib bangsa kita mau dibawa kemana, yang terdekat ada di RKUHP. Sehingga harapanya DPR lebih kritis ya," kata dia.

# TAGAR   :  
EDITOR :
Bagikan Berita Ini :