Seteru Panjang IDI dan Terawan Hingga Berujung Pemecatan


Laporan : RMOLNETWORK
Sabtu, 26 Maret 2022 - 11:58

Mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto diberhentikan secara permanen dari keanggotaan di Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Buntut dari perseteruan Terawan dengan Asosiasi Profesi itu sejak 2015.

Kabar tersebut disampaikan Epidemiolog dari Universitas Indonesia (UI), Pandu Riono dalam cuitan di akun Twitternya, Jumat (25/3).

"Terawan diberhentikan secara permanen dari keanggotaan IDI, salah satu keputusan Muktamar XXXI di Kota Banda Aceh," cuit Pandu dikutip Kantor Berita Politik RMOL.

Dikatakan Pandu, keputusan tersebut diambil Majelis Kehormatan Etik Kedokteran IDI (MKEK IDI) sebelum dibawa ke sidang Muktamar IDI.

"Itu rekomendasi dari MKEK Pusat pada Ketua Umum @PBIDI dan akan diputuskan pada sidang khusus Muktamar IDI XXXI," katanya.

Rapat sidang khusus MKEK menerbitkan tiga poin keputusan. Pertama, meneruskan hasil keputusan rapat sidang khusus MKEK yang memutuskan pemberhentian secara permanen kepada Prof Dr dr Terawan Agus Putranto, SpRad(K) sebagai anggota IDI.

Kedua, pemberhentian tersebut dilaksanakan oleh PB IDI selambat-lambatnya 28 hari kerja. Ketiga, Ketetapan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Melongok ke belakang, perseteruan IDI dan Terawan telah berlangsung sejak 2015. Berawal dari  praktik terapi "cuci otak" (Brainwash) yang dilakukan Terawan

Terapi cuci otak merupakan inovasi metode medis Terawan yang kala itu menjabat sebagai Kepala RSPAD Gatot Soebroto serta Dokter Kepresidenan Republik Indonesia. Ia memperkenalkan inovasi itu sejak 2004 dan mulai banyak peminat tahun 2010.

 Cuci otak adalah istilah lain flushing atau Digital Substraction Angiography (DSA) yang dilakukan Terawan untuk melancarkan peredaran darah di kepala. Cara ini diklaim berhasil menangani berbagai pasien yang mengalami stroke.

Persoalannya, IDI merasa terapi cuci otak menggunakan alat DSA yang dilakukan Terawan belum teruji secara ilmiah. Selain itu, Terawan juga melakukan publikasi dan promosi masif dengan klaim kesembuhan di media.

Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) IDI kemudian memanggil Terawan untuk dimintai keterangan. Namun, Terawan dianggap tidak kooperatif karena tidak memenuhi panggilan tersebut sejak diusut pada 2015.

Setelah tiga tahun,  MKEK IDI memutuskan untuk menggelar sidang secara inabsentia. Terawan kemudian dinilai melakukan pelanggaran kode etik dengan sanksi pemecatan sementara dari MKEK IDI namun tidak mencabut ijin praktiknya.

Puncaknya Jumat (25/3) kemarin, IDI akhirnya memutuskan memberhentikan Terawan dari keanggotaan IDI secara permanen lewat sidang sidang khusus MKEK IDI.

# TAGAR   :  
EDITOR :
Bagikan Berita Ini :