• HOME
  • DUNIA
  • Redam Aksi Protes, Rajapaksa Terapkan Keadaan Darurat di Seluruh Sri Langka

Redam Aksi Protes, Rajapaksa Terapkan Keadaan Darurat di Seluruh Sri Langka


Laporan : Sultan Nabil Herdiatmoko
Minggu, 8 Mei 2022 - 09:52

Polisi membubarkan paksa demonstrasi di depan gedung parlemen Sri Lanka, Kolombo, Jumat sore (6/5) /Net

Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa telah mengumumkan pemberlakukan keadaan darurat negara di seluruh pelosok negara, Jumat (6/5) tengah malam. Langkah ini ditempuh ditengah makin maraknya aksi protes atas ketidakmampuan pemerintah mengatasi krisis yang terjadi.

"Presiden telah mengambil keputusan ini karena situasi darurat publik di Sri Lanka dan untuk kepentingan keamanan publik, perlindungan ketertiban umum, dan pemeliharaan pasokan dan layanan yang penting bagi kehidupan masyarakat," tulis pernyataan Kantor Kepresidenan Rajapaksa, dimuat oleh Reuters, Sabtu (7/5).

Ini merupakan kedua kalinya keadaan darurat negara diberlakukan dalam lima pekan terakhir.

Dibawah keadaan darurat, pemerintah dapat mengerahkan militer untuk menindak dan membubarkan paksa aksi demonstrasi dan menangkap mereka yang ikut serta dalam pemogokan nasional menuntut pengunduran diri Rajapaksa.

Pasca pengumuman itu, jalan-jalan di ibu kota Kolombo relatif lebih tenang, sebagaimana dilihat oleh wartawan lokal yang melaporkan kepada Reuters, Sabtu. Lalu lintas mulai berjalan normal di Galle Face, area pusat Kolombo yang telah menjadi tempat utama protes dan pawai.

Sementara di luar Gedung Sekretariat Presiden pada kawasan Galle Face, sekitar 100 orang masih berkumpul untuk mendengarkan pidato anti-pemerintah. Kendaraan yang melintas membunyikan klakson sebagai tanda dukungan terhadap aksi tersebut.

“Keadaan darurat ini tidak akan menghentikan protes,” kata Waheeda Lafir, seorang guru yang mengantarkan bantuan makanan ke tenda-tenda yang telah berdiri di lokasi itu selama hampir sebulan terakhir.

"Ini adalah senjata makan tuan, mereka harus mengundurkan diri," pungkasnya.

Sebelum keadaan darurat diumumkan, petugas polisi terlibat bentrok dengan demontran di luar gedung parlemen. Polisi menembakkan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan demontran yang memprotes kondisi Sri Langka yang mengalami keruntuhan ekonomi, terjebak utang luar negeri dan kini kekurangan makanan, bahan bakar dan obat-obatan.

Pihak oposisi menyuarakan penentangan terhadap pemberlakukan keadaan darurat tersebut. Demikian pula komentar sejumlah perwakilan luar negeri.

"Saya khawatir dengan keadaan darurat lainnya," cuit Duta Besar Amerika Serikat untuk Sri Lanka Julie Chung di Twitter, Sabtu (7/5).

"Suara warga yang damai perlu didengar." pungkas cuitannya.

# TAGAR   :  
EDITOR :
Bagikan Berita Ini :