Pembatik Kaki dari Bondowoso


Laporan : RMOLNETWORK
Senin, 10 Januari 2022 - 13:07

Siti Rahmatillah tengah membatik./RMOLJatim

Semangat dan kerja keras bisa mengalahkan keterbatasan yang dimiliki. Tak ada yang tidak mungkin. Seorang disabilitas pun bisa menjadi orang sukses di bidangnya.

Menapak cita-cita menjadi orang sukses itu yang kini tengah dijalani, Siti Rahmatillah dua tahun terakhir. Perempuan dua puluh lima tahun yang biasa dipanggil Rahma itu adalah warga Dusun Keramat, Desa Jetis, Kecamatan Curahdami.

Sejak dua tahun terakhir. Rahma fokus meningkatkan kemampuannya dalam membatik meski kondisi fisiknya terbatas. Ya, Rahma membatik dengan menggunakan kakinya.

Bercerita kepada RMOLJatim, Rahma mengaku ketertarikan terhadap batik sejak lama. Ia sudah punya bekal keterampilan dasar, karena memang suka menggambar sejak duduk di bangku sekolah dasar dahulu. Kesempatan datang pada tahun 2019. Ia dikenalkan oleh Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Bondowoso dengan salah seorang pembatik di Kecamatan Jambesari Darussholah. Di sanalah kemudian Rahma mulai menekuni teknik dasar dalam membatik.

Rahma masih ingat suka dan duka dua tahun belajar membatik. Lokasi yang cukup jauh, membuat ia harus naik ojek untuk pulang perginya. Ia pun rela tidak menerima imbalan apapun dari hasil karyanya.

"Suka dukanya seperti itu mas, karena jaraknya jauh di tambah harus mengojek pulang perginya," ujarnya.

Setelah beberapa bulan belajar, Rahma pun dianggap sudah mahir membatik dan hasilnya sudah layak dipasarkan, tapi karena dianggap pelatihan, ia tidak mendapat bayaran.

"Karena masih dianggap pelatihan ya gak dapat bayaran mas, hanya makan siang," tuturnya.

Merasa sudah punya bekal ilmu yang cukup, Rahma memberanikan diri untuk memulai usaha batik secara mandiri. Ia pun pamit kepada tersebut termasuk kepada Dinsos Bondowoso.

"Saya ingin buka usaha sendiri di rumah. Nanti kan kalo rame bisa ngajak tetangga dan warga sekitar untuk membatik," sambungnya.

Rahma bersyukur, usaha batik yang dirintisnya menunjukkan kemajuan. Saat ini ia sudah terima banyak pesanan. Bahkan, beberapa pesanan terpaksa ditolak karena keterbatasan tenaga atau permintaan pelanggan yang waktunya terlalu singkat.

"Terpaksa kami tidak terima mas karena kalau tidak selesai sesuai target, kasihan sama yang pesan," lanjutnya.

Saat ini, Rahma berbagi tugas dengan suaminya dalam merintis usaha rumahan tersebut.

"Suami yang menggambar, lalu saya yang  nyanting membantunya," terangnya.

Selain mendapat bantuan Dinsos Bondowoso, Rahma juga memulai berkolaborasi dengan Ijen Batik Bondowoso untuk mengembangkan teknik usaha. Kolaborasi ini mulai dari mendesain motif, membatik hingga memasarkannya.

"Alhamdulillah ketemu sama mas Andre pemilik Ijen Batik, akhirnya bisa menambah semangat saya untuk buka sanggar batik sendiri."

Rahma ingin membuka sanggar batik sendiri. Namanya pun sudah disiapkan. Rahma Batik. Saat ini Rahma sudah mulai memesan spanduk untuk untuk sanggar batiknya itu. Spanduk itu nantinya akan dipasang di sepanjang jalan sekitar menuju rumahnyau.

"Nama sanggarnya pakai nama saya biar mudah dicari orang," pungkas Rahma.

# TAGAR   :  
EDITOR :
Bagikan Berita Ini :