Mempertanyakan Indeks Kebahagiaan 2021


Laporan : RMOLNETWORK
Jumat, 7 Januari 2022 - 21:35

Ilustrasi/Net

INDEKS Kebahagiaan 2021 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) seakan menjadi kado perayaan pergantian tahun ini. Dalam survei tiga tahunan yang dipublikasikan pada 31 Desember 2021 yang melibatkan 34 provinsi tersebut, Maluku Utara menempati peringkat atas dengan 76,34 dan Banten di peringkat buncit di angka 68,08.

Ukuran yang dipakai dalam survei pengukuran tingkat kebahagiaan (SPTK) tersebut antara lain kepuasan hidup (life satisfaction), perasaan atau kondisi emosional (affect) dan makna hidup (eudaimonia). Survei dilaksanakan serentak di seluruh kabupaten/kota di 34 provinsi di seluruh Indonesia dengan rentang waktu 1 Juli sampai 27 Agustus 2021 dengan responden 75 ribu rumah tangga yang dipilih secara acak (random).

Di manakah posisi Jakarta? Indeks Kebahagiaan DKI Jakarta berada pada angka 70,68, dan berada pada urutan ke-27 dari 34 provinsi di Indeks Kebahagiaan menurut provinsi. Angka ini turun dibanding 2017, 71,33. Namun, tetap lebih baik dari periode sebelumnya, yaitu 2014 yang hanya meraih angka 69,21.

Ada rasa getir dan lucu saat membaca deretan data dan angka-angka ini. Bayangkan, survei ini dilakukan saat Indonesia tengah berperang melawan pandemi Covid-19. Sepanjang 2021, pemerintah berkali-kali memperpanjang masa Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4, 3, 2, hingga 1 di Jawa-Bali guna mengantisipasi lonjakan tingkat positif (positivity rate) maupun kematian karena Covid-19. Ekonomi nyaris lumpuh dan tak bergerak sama sekali.

Sepanjang Juli-Agustus 2021, Jakarta menjadi epicentrumnya dengan positivity rate mencapai 8,57 persen, masih di atas standar Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO yaitu 5 persen, bahkan tengah berada di zona merah. Sebanyak 150 rukun tetangga (RT) di Jakarta memiliki kerawanan virus berisiko tinggi.

Kasus varian baru virus corona di DKI Jakata tercatat sebanyak 474 hingga 7 Agustus 2021. Dari jumlah tersebut, varian Delta paling mendominasi sebanyak 425 kasus, disusul varian Alpha 37 kasus dan varian Beta 12 kasus. Merujuk indikator tersebut, itu artinya Jakarta termasuk dalam zona merah varian Delta dengan 425 kasus.

Situasi ibu kota saat itu menakutkan dengan banyaknya angka penularan dan angka kematian. Saat itu pulalah survei Indeks Kebahagiaan ini dilakukan.

Saat warga ibu kota dan Nusantara tengah berduka, BPS sempat-sempatnya menebar kuisioner dan menemui respondennya hanya untuk menanyakan mereka bahagia atau tidak. Survei yang tak ada akhlak. Begitulah kira-kira.

Terlepas dari survei ini merupakan kegiatan tiga tahunan BPS, tapi jajak pendapat ini cenderung salah dalam pemilihan waktu sehingga berpotensi bias dengan akurasi hasil yang tak terjaga. Bahkan, hasil buruk yang menimpa sejumlah daerah bisa menjadi komoditas politik yang bisa dimanfaatkan untuk mendelegitimasi pemimpin daerah tersebut.

Coba kita pikir, apa yang tak ada di kota metropolitan seperti Jakarta? Semua serba ada, mulai dari pusat perbelanjaan dari kalangan bawah hingga atas, taman terbuka hijau, pusat kebugaran, hingga tempat rekreasi atau kawasan wisata. Lengkap. Singkatnya, Jakarta memiliki banyak modal untuk membahagiakan warganya.

Namun, kalau yang ditanyakan adalah persepsi atau pola pikir, berbagai fasiitas tersebut bisa tak ada artinya bagi warga yang tak pernah merasa puas dengan hidupnya atau tak memiliki konsep baku tentang kebahagiaan, di tengah pandemi pula!

Sebab, setiap orang memang memiliki ukurannya sendiri dalam berurusan dengan kebahagiaan. Ada yang bahkan menemukannya melalui jalur kesederhanaan atau hal-hal kecil dalam kehidupan. "Kebahagiaan bergantung pada diri kita sendiri," kata Aristoteles.

Bila makan seadanya, tinggal di rumah petak nan sempit, dengan keluarga tercinta di desa terpecil saja sudah membuat sebagian orang merasa bahagia, bisa apa kita? Senisbi itu memang ukuran bahagia. Ukuran bahagia bisa bersifat relatif antarorang per orang karena menyangkit persepsi dan penghayatan atas nilai-nilai kehidupan.

Karena itu, survei indeks kebahagiaan itu pun mendapatkan sorotan dari sejumlah pihak. Epidemiolog Pandu Riono, misalnya. Lewat akun Twitternya, @drpriono1, ia mengomentari indeks kebahagiaan yang dirilis oleh BPS yang menyebut statistik indeks kebahagiaan bisa dipakai untuk berbohong.

"Statistik pun bisa dipakai untuk berbohong. Kebahagiaan merupakan kondisi yg kompleks, dikatakan meningkat di Indonesia yg hanya 0.8 poin, dalam situasi Pandemi. Ada problema besar dalam pengukuran, "measurement bias. Ada problem interpretasi. Kita perlu skeptis. @bps_statistics," cuitnya.

Ada baiknya BPS memang perlu konsisten bermain di sekitaran pengumpulan atau produksi data dengan angka yang bersifat eksak atau rigid, seperti sensus penduduk, laju inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan data statistik lainnya. Bukan jajak pendapat atau menghimpun persepsi yang sifatnya subyektif.

Qusyaini Hasan
Pemerhati sosial perkotaan


EDITOR :
Bagikan Berita Ini :