• HOME
  • POLITIK
  • Jumhur: Beda Upah Buruh Saat ini dan  Era Kolonial, Hanya Sekilo Beras

Jumhur: Beda Upah Buruh Saat ini dan  Era Kolonial, Hanya Sekilo Beras


Laporan : RMOLNETWORK
Minggu, 13 Maret 2022 - 20:07

Jumhur Hidayat di acara Musda III Federasi Serikat Pekerja Pertanian dan Perkebunan KSPSI di Padang, Sabtu (12/3)

Upah harian buruh tak banyak mengalami perbaikan. Bahkan jika dibandingkan saat era penjajahan Belanda, upah harian buruh saat ini tidak jauh berbeda. Hanya selisih sekilo beras saja.

Setidaknya, demikian yang disampaikan Ketua Umum KSPSI Jumhur Hidayat saat memberi sambutan pada Musyawarah Daerah III Federasi Serikat Pekerja Pertanian dan Perkebunan KSPSI di Padang, Sumatera Barat, Sabtu (12/3).

Pernyataannya itu berdasarkan fakta sejarah. Ia mengutip  pidato pembelaan Soekarno di depan Pengadilan Landraad di Bandung tahun 1930. Ketika itu, Bung Karno menyatakan prihatin karena upah harian buruh saat itu hanya sekitar 45 sen Gulden, padahal harga beras ketika itu 7 sen. Hanya cukup untuk membeli 6 kg beras.

Membandingkan dengan kondisi saat ini, upah harian buruh tidak jauh berbeda. Mengambil contoh Sumbar yang UMPnya sekitar Rp 2,5 juta per bulan. Berarti upah harian buruh hanya dapat membeli 7 Kg beras per harinya.

"Ini lebih baik bila dibanding dengan UMP di Jawa yang bahkan masih sama dengan upah jaman kolonial. Saat ini upah pekerja yang dibayar dengan UMP hanya mampu membeli sekitar 7-8 Kg beras saja," kata Jumhur dikutip Kantor Berita Politik RMOL.

Jumhur mengaku sedih dengan kondisi itu. Oleh karena itu, ia meminta  para Pengusaha agar tidak serta merta menggunakan alasan aturan baru Omnibus Law sehingga mengurangi kesejahteraan buruh.

"Perjanjian Kerja Bersama yang sudah bagus jangan diturunkan standar kesejahteraannya dengan alasan dibolehkan oleh UU Omnibuslaw," ujar Jumhur.

Dikatakan Jumhur lebih jauh, instrumen redistribusi yang paling efektif bagi bangsa adalah dengan tidak memberi upah rendah pada buruh.

"Buruh kalau dapat upah layak kan tidak disimpan di Singapura, tapi dibelanjakan untuk keperluan sehari-hari sehingga kegiatan produksi di tanah air juga akan tumbuh," tegas dia.

Jumhur juga mengajak serikat buruh untuk  terus bersuara menyampaikan aspirasi anggotanya yaitu menolak UU Cipta Kerja yang sudah dinyatakan Inkonstitisional oleh Mahkamah Konstitusi.

Menyemangati perjuangan gerakan buruh Sumbar  Jumhur mengutip ulang kata-kata Bung Hatta.

“Hari siang bukan karena ayam berkokok, akan tetapi ayam berkokok karena hari mulai siang. Begitu juga dengan pergerakan rakyat. Pergerakan rakyat timbul bukan karena pemimpin bersuara, tetapi pemimpin bersuara karena ada pergerakan,” tandas dia.

# TAGAR   :  
EDITOR :
Bagikan Berita Ini :