• HOME
  • POLITIK
  • Indonesia Dianggap Melewatkan Momentum, Cetak Sejarah di Presidensi G20

Indonesia Dianggap Melewatkan Momentum, Cetak Sejarah di Presidensi G20


Laporan : RMOLNETWORK
Rabu, 16 Maret 2022 - 21:06

Ilustrasi./Net

Pendiri dan editor konsultan Asia Sentinel, Philip Bowring mengkritik sikap Indonesia yang dianggapnya telah mengabaikan kesempatan saat memimpin Presidensi G20 tahun ini. Ia menyebut Indonesia bak singa yang mengeong.

Dalam tulisan berjudul, “Indonesia: The Lion that Meowed,” Bowring mengatakan, Indonesia saat ini berada di meja utama dunia. Semestinya, Presidensi G20 bisa menjadi momen bersejarah untuk membuat jejaknya di dunia. Namun, agaknya Indonesia lebih memilih melewatkan kesempatan itu.

"Presiden Joko Widodo bercita-cita menjadi tokoh global yang mewakili bangsa yang besar dan demokratis, namun tampaknya kurang memikirkan cara untuk mewujudkannya," ujar Bowring dalam artikelnya yang tayang Rabu (16/3).

Dikatakan Bowring, G20 adalah forum internasional yang fokus pada koordinasi kebijakan di bidang ekonomi dan pembangunan bukan isu politik. Akan tetapi, tak diragukan lagi bahwa tindakan Rusia adalah ancaman terhadap ekonomi global, sama halnya kerusakan ekonomi akibat pandemi Covid-19.

“Jika Indonesia ingin menjadi kekuatan global, maka harus bertindak seperti kekuatan global,” tulis Bowring mengutip seorang pengusaha barat yang berbasis Jakarta.

Indonesia, seperti tetangganya Singapura dan Filipina, memilih mendukung keputusan PBB yang mengkritik Rusia. Namun, Indonesia tidak berusaha memanfaatkan tempatnya saat ini untuk mengumpulkan anggota G20 dan menentukan sikap terhadap invasi Rusia.

Invasi Rusia tidak hanya mengancam dan mengganggu perdagangan di komoditas utama seperti gandum, bahan bakar, dan nikel, menurutnya. Invasi Rusia juga menyebabkan kerusakan dalam rantai pasokan yang melayani semua jenis industri termasuk chip laptop yang penting bagi banyak industri.

Rusia menyediakan bagi Uni Eropa 40 persen bahan bakar murninya, 27 persen impor minyaknya, dan 40 persen impor batu baranya. Ukraina mengekspor sepertiga dari biji-bijian dunia. Ketika dua negara tersebut berperang, maka gangguan terhadap penyediaan tersebut akan mendatangkan bahaya finansial yang besar bagi dunia.

Bowring mengkritik Indonesia, sebagai satu-satunya anggota G20  dari Asia Tenggara dengan 600 juta penduduk, memiliki kewajiban untuk menyuarakan aspirasinya dan membawa topik Invasi ke meja G20, alih-alih memisahkan forum tersebut dari isu konflik yang terjadi antara Ukraina dan Rusia.

"Rusia merupakan salah satu negara anggota di dalam forum tersebut, Indonesia dianggap bisa memanfaatkan perannya sebagai Presiden G20 untuk mengupayakan mediasi damai antara kedua negara," ujar Bowring.

Para pejabat politik Indonesia seharusnya memahami, menjadi negara besar  kadang berarti harus  membuat pilihan yang tidak menyenangkan  dalam isu internasional. Sikap berusaha bersikap baik kepada semua adalah tidak masuk akal  dalam pendekatan terhadap situasi Ukraina.

Komentar Bowring muncul menyusul pernyataan Indonesia yang menegaskan bahwa Presidensi G20 Indonesia akan tetap fokus pada tiga agenda utama yaitu arsitektur kesehatan global, transformasi digital, dan transisi energi, tanpa menyeret konflik Rusia-Ukraina.

“Ukraina hanyalah kasus terbaru. Jakarta menutupi kepalanya dengan pasir saat ia duduk di kursi presidensi G20, yang semestinya digunakan untuk mengambil fungsi penting di dunia dan bahkan urusan Asia,” tegasnya.

# TAGAR   :  
EDITOR :
Bagikan Berita Ini :