• HOME
  • DUNIA
  • Hadapi Penyakit Cacar Monyet, WHO Nyatakan Tak Perlu Vaksinasi Massal 

Hadapi Penyakit Cacar Monyet, WHO Nyatakan Tak Perlu Vaksinasi Massal 


Laporan : Arkan Yasin
Sabtu, 28 Mei 2022 - 09:31

Cacar monyet terjadi di beberapa negara Afrika Tengah dan Barat, tetapi tahun 2022 penyebarannya semakin meluas. /Net

Organisasi Kesehatan Dunia atau Word Health Organization (WHO) menyatakan tidak perlu kampanye vaksinasi dan imunisasi massal menghadapi penyakit cacar monyet atau monkeypox.

Saat ini penyakit cacar monyet tengah melanda sebagian negara di Eropa. 

"Untuk saat ini belum diperlukan vaksinasi massal terhadap cacar monyet tetapi pelacakan kontak dan isolasi tetap penting untuk menahan wabah," kata Kepala Departemen Cacar WHO, Rosamund Lewis, dalam keterangannya pada Jumat (27/05), dikutip dari RMOL.ID. 

Selama pengarahan di Jenewa, Lewis mengatakan, saran terbaru dari WHO, hanya orang-orang yang secara profesional menangani virus, yaitu personel lab, petugas kesehatan, dan responden pertama, yang mungkin perlu dipertimbangkan untuk perlindungan ekstra.

“Yang kami sarankan sejauh ini adalah tidak perlu vaksinasi massal, tidak perlu kampanye imunisasi besar-besaran, ” kata Lewis, seperti dikutip dari AFP, Sabtu (28/05).

Namun, dia menjelaskan, karena penyakit ini ditularkan terutama melalui kontak fisik yang dekat, kontak kulit-ke-kulit, dan kontak tatap muka, pelacakan kontak, penyelidikan, dan isolasi tetap menjadi mode kontrol utama untuk saat ini.

"Sangat penting untuk melakukan isolasi kontak dengan sangat serius," kata dia.

Sementara itu, Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA) mengatakan pada hari Jumat bahwa, dalam 24 jam terakhir, 16 kasus baru monkeypox telah diidentifikasi. Sehingga jumlah total kasus Inggris menjadi 106. Ini menjadikan Inggris sebagai negara dengan jumlah kasus tertinggi di Eropa.

"Risiko terhadap populasi Inggris tetap rendah, tetapi kami meminta orang untuk waspada terhadap ruam atau lesi baru, yang akan muncul seperti bintik-bintik, bisul atau lecet, di bagian mana pun dari tubuh mereka," kata dia.

UKHSA mengungkapkan, pihaknya telah membeli lebih dari 20.000 dosis vaksin cacar yang disebut Imvanex, yang ditawarkan untuk menutup kontak pasien cacar monyet.

Awal pekan ini, Kepala Eksekutif Pfizer, Albert Bourla, mengatakan,wabah cacar monyet sangat tidak mungkin berubah menjadi pandemi karena virus itu tidak terlalu menular. Pfizer adalah perusahaan di balik salah satu vaksin Covid yang paling banyak digunakan.  

“Kami tetap tenang dan memantau situasi, tetapi saya pikir saat ini masalah sebenarnya masih Covid,” kata dia kepada Sky News.

Puluhan kasus cacar monyet telah diidentifikasi di AS, Kanada, Australia, dan Eropa. Cacar monyet  meninggalkan pustula khas pada kulit tetapi jarang mengakibatkan kematian.

WHO sebelumnya telah memperingatkan bahwa Eropa akan menghadapi gelombang kasus cacar monyet dalam beberapa bulan mendatang. Disebutkan juga bahwa penyebaran virus saat ini adalah sesuatu yang tidak biasa karena sebelumnya virus hanya terbatas di Afrika tengah dan barat.

# TAGAR   :  
EDITOR :
Bagikan Berita Ini :