Aliansi Lampung Memanggil Rilis Daftar Korban Dan Mahasiswa Yang Ditangkap

Kericuhan saat aksi di DPRD Lampung/ RMOLLampung
Kericuhan saat aksi di DPRD Lampung/ RMOLLampung

Aliansi Lampung Memanggil mengecam tindakan represif aparat terhadap massa aksi tolak UU Omnibus Law Cipta Kerja di Gedung DPRD Provinsi Lampung, Rabu (7/10) kemarin.


"Aparat menembakkan gas air mata, pemukulan terhadap masa aksi, bahkan sampai memlemparkan batu. Korban dari peserta aksi banyak yang mengalami luka-luka," kata Irfan Fauzi Rachman, korlap aksi, Kamis (8/10).

Ia melanjutkan, bahkan sampai mendapat luka yang sangat serius: mata luka hingga pembuluh darah pecah dan kepala bocor. 

Pihaknya mendata ada 15 mahasiswa yang dilarikan ke rumah sakit, diantaranya 7 orang dirawat di RS Bumi Waras; Agam dari Universitas Malahayati (kepala bocor), Vika dari Polinela, Mega dari Polinela, Fany dari Polinela, Sari dari Universitas Malahayati, Asih dari UIN RIL dan Zenita dari UIN RIL.

Kemudian 6 orang dirawat di RS Umum Daerah Tjokrodipo; Rafly Tri Andana dari Universitas Teknokrat Ryan Firza dari UIN RIL, Uswatun Khasanah dari UIN RIL, Dilla dari UBL, Yokta dari UBL, dan Bembi dari UIN RIL.

Selanjutnya, Hafis dari Unila dirwat di RS Bhayangkara dan Zikri Ilham dari Unila dirawat di RSUD Abdoel Moeloek (pecah pembuluh darah di mata).

Selain itu, Irfan melanjutkan ada dua mahasiswa yang tertangkap dan berada di Polresta Bandarlampung, yakni Dias Prasetya dari Unila dan Rafif dari UM Metro.

Irfan mengatakan, data ini merupakan data sementara dan akan terus diperbarui.

Menurutnya, tindakan represif dari aparat dalam merespon aksi penolakan terhadap Omnibus Law Cipta Kerja ini memperlihatakan watak anti demokrasinya Indonesia hari ini.

"Melalui aparaturnya rezim membungkam  gerakan penolakan terhadapa Omnibus Law Cipta Kerja , yang notabene UU tersebut akan memsikinkan masyarakat secara struktural," kata dia.

Pihaknya menilai, tindakan tersebut tidak mencerminkan kebebasan berpendapat di muka umum yang telah di amanatkan dalam UU no 9 tahun 1998.